Minggu, 28 Mei 2017

Industri Kimia Halogenasi (Polivinil Klorida)

MAKALAH PROSES INDUSTRI KIMIA II Industri Kimia Halogenasi (Polivinil Klorida) DISUSUN OLEH : KELAS C2 KELOMPOK II MUTMAINNAH (09220140038) AINUN PRATIWI (09220140039) NURICHSAN USMAN (09220140040) FASDILAH ALI (09220140041) JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR 2016 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Manajemen Industri. Tak lupa pula kita kirimkan shalawat dan taslim kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW karena beliaulah yang telah membawa kita dari alam yang gelap menuju alam yang terang benderang seperti pada saat ini. Ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini, atas dukungan moral dan materi yang diberikan, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ibu Dr. Rismawati, ST., MT sebagai dosen pembimbing mata kuliah Proses Industri Kimia II. 2. Serta orang tua dan juga teman-teman yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini. Saya mengharapkan makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat untuk pembaca, dan apabila ada kekurangan mohon dimaafkan. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan pada penulisan berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Makassar, 24 Oktober 2016 Kelompok II DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 BAB II PEMBAHASAN 2 A. Reaksi Halogenasi 2 B. Polivinil Klorida (PVC) 2 C. Proses Industri Pembuatan PVC (Polyvinyl chloride) 6 D. Kegunaan PVC 11 BAB III PENUTUP 13 A. Kesimpulan 13 B. Saran 13 DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Plastik adalah bentuk polimerisasi yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa plastic memiliki sifat khusus, antara lain akan lebih mudah larut pada pelarut yang sesuai, pada suhu tinggi akan mudah lunak, tetapi akan mengeras kembali jika didinginkan, struktur molekulnya linier atau bercabang tanpa ikatan silang antar rantai. Bahan-bahan yang bersifat termoplastik mudah untuk diolah kembali karena setiap dipanaskan, bahan-bahan tersebut dapat dituangkan ke dalan cetakan yang berbeda untuk membuat plastik yang baru. Polietilen (PE) dan polivinilklorida (PVC) merupakan contoh jenis polimer ini. Polivinil klorida (IUPAC: Poli (kloroetanadiol)), biasa disingkat PVC, adalah polimer termoplastik urutan ketiga dalam hal jumlah pemakaian di dunia, setelah polietilena dan polipropilena. Vinyl chloride monomer (VCM) merupakan senyawa organik dengan rumus molekul C2H3Cl. Dalam perkembangannya, VCM diproduksi sebagai produk antara dan digunakan untuk bahan baku pembuatan polimer polivinyl chloride (PVC). Klorinasi hidrokarbon adalah ide dasar di balik produksi monomer vinil klorida (VCM). hidrokarbon terklorinasi (CHCs) jauh lebih tahan terhadap biodegradasi, tidak seperti hidrokarbon sederhana. Hal ini karena kekuatan yang melekat dari ikatan C-Cl. Akibatnya, CHCs buatan manusia mulai menumpuk di lingkungan. Namun, produksi VCM adalah penting untuk produksi polyvinyl chloride (PVC). Ada begitu banyak aspek positif dari menggunakan PVC yang sangat penting yang diproduksi. Di seluruh dunia, lebih dari 50% PVC yang diproduksi dipakai dalam konstruksi. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Proses Industri Kimia pembuatan Polivinil klorida (PVC) yang melibatkan proses halogenasi dalam proses pembuatan PVC. BAB II PEMBAHASAN A. Reaksi Halogenasi Halogenasi diambil dari kata halogen yaitu anggota golongan unsur yang sangat aktif, terdiri dari fluorin, bromin, iodin, klorin, atau astatin, yang mempunyai sifat kimia sama. Sedangkan halogenasi tersebut merupakan prosesnya yaitu pemasukan halogen ke dalam senyawa organik, baik secara penambahan (adisi) maupun secara penggantian (substitusi). Halogenasi merupakan reaksi yang terjadi antara ikatan karbon-karbon rangkap (C=C) pada senyawa-senyawa alkena seperti etena dengan unsur-unsur halogen seperti klorin, bromin dan iodin. Reaksi halogenasi sendiri telah banyak digunakan di industri-industri organik maupun non-organik. Reaksi halogenasi adalah reaksi yang terjadi pengikatan satu atau lebih atom halogen (F, Cl. Br, I) pada senyawa organik. Pabrik kimia yang menggunakan proses halogenasi 1. Pabrik Hexachlorobenzena 2. Pabrik Vinyl Chloride 3. Pabrik Tetrachloroethane 4. Pabrik Allyl Chloride B. Polivinil Klorida (PVC) Vinyl chloride pertama kali diproduksi menggunakan proses dehidrasi etilen diklorida (EDC) dengan kalium kaustik beralkohol. Namun, proses industri pertama yang efektif didasarkan pada hydrochlorination asetilena. Sampai akhir 1940-an, proses ini digunakan hampir secara eksklusif. Metode normal memproduksi acetylene adalah dari kalsium karbida. "Kebutuhan energi tinggi untuk produksi karbida adalah kelemahan serius untuk produksi massal terus vinil klorida dengan metode ini". Namun, seperti ethylene menjadi lebih banyak di awal 50-an, proses komersial dikembangkan untuk menghasilkan vinil klorida dari klorin dan etilena melalui EDC, yaitu, rute etilena seimbang. Hari ini etilena seimbang bertanggung jawab untuk lebih dari 90% dari produksi vinyl klorida dunia. "Proses ini telah disempurnakan dan skala operasi telah sangat meningkat, tetapi tidak ada proses fundamental baru telah mencapai kelangsungan hidup komersial". Meskipun hal ini benar, masih perlu untuk memeriksa proses alternatif dan menentukan apakah mereka masih bisa dimanfaatkan. Semua tanaman produksi saat ini untuk vinil klorida bergantung pada penggunaan bahan baku C2 hidrokarbon, khususnya, acetylene, ethylene, atau etana. operasi komersial menggunakan senyawa ini terbatas pada proses fase gas. "Industri dari asetilena adalah proses-satu tahap yang relatif sederhana, tetapi biaya asetilena tinggi". Etana adalah jauh paling hidrokarbon C2 mahal, tapi tidak dapat dikonversi ke vinil klorida dengan selektifitas yang tinggi. Terdapat empat metode yang dapat ditempuh untuk memproduksi VCM, yaitu: cracking etilen dikhlorida (EDC), reaksi antara acetylene (C2H2) dengan hydrogen chloride (HCl), reaksi methyl chloride (CH3Cl) dengan metylene chloride (CH2CHCl) serta hydrodechloronation 1-1-2 trichloroethane (C2H3Cl3). Keempat metode tersebut akan dijelaskan secara singkat di bawah ini. 1. Reaksi Acetylene (C2H2) dengan Hydrogen Chloride (HCl)
 Menurut Nexant’s ChemSystem Process Evaluation/ Research Planning (2007), metode pembuatan VCM dengan mereaksikan acetylene dengan HCl merupakan metode yang pertama kali digunakan dalam memproduksi vinyl chloride monomer (VCM). Metode ini dilakukan dengan mereaksikan acetylene yang berada pada fasa uapnya dengan HCl. Reaksi ini berjalan dengan bantuan mercury chloride (HgCl2) dan karbon aktif sebagai katalis. Karbon aktif yang digunakan sebagai carrier mercury chloride ini dapat diperoleh dari batu bara atau coke petroleum. Pada proses ini, HCl bebas air dihasilkan dari reaksi antara gas H2 dan gas Cl2, sedangkan asetilen dikeringkan terlebih dahulu kemudian dilewatkan tumpukan karbon dengan tujuan untuk menghilangkan zat-zat yang dapat merusak katalis seperti sulfida. Acetylene dan HCl dicampur dengan menggunakan mixer untuk kemudian dipanaskan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam reaktor. Reaksi yang terjadi pada proes ini cukup sederhana dan dinilai cukup efektif karena menghasilkan konversi yang cukup tinggi. Adapun reaksi yang terjadi pada proses ini adalah sebagai berikut: Reaksi di atas merupakan reaksi eksotermis dengan panas reaksi pada 25oC dan tekanan 1 atm adalah sebesar -22.451.77 Kkal/Kgmol, sehingga panas yang timbul akibat reaksi harus diserap agar reaktor tetap bekerja secara isothermal. Reaksi ini berjalan pada temperature 90-140 C dan tekanan 1,5 atm sampai 1,6 atm. Pada kondisi operasi tersebut, konversi reaktan adalah sebesar 80-85%. Reaktor yang dipakai pada proses ini adalah fixed bed reactor dengan katalis yang diletakkan di dalam pipa-pipanya. 2. Reaksi Metil Khlorid CH3Cl dengan Methylene Chloride CH2CHCl Metode ini dilakukan dengan mereaksikan methyl chloride dan methylene chloride yang berada pada fasa uap-nya untuk menghasilkan vinyl chloride monomer dan asam klorida. Satu mol methyl chloride bereaksi dengan satu mol methylene chloride untuk menghasilkan satu mol vinyl chloride monomer dan 2 mol asam klorida. Mekanisme reaksi yang terjadi adalah 
sebagai berikut: CH3Cl + H2O CH3OH + HCl CH3OH + CH2Cl2 CH3OCH2Cl + HCl CH3OCH2Cl
 CH2CHCl + H2O Reaksi di atas berjalan pada temperatur 300-500C dan tekanan 1 atm 
sampai 10 atm. Selektivitas pada reaksi di atas dapat ditingkatkan dengan menggunakan beberapa katalis antara lain alumina gel, gamma-alumina, zinc chloride, zeolite dan silicone alumunium phosphorus.
 3. Cracking Etilen Dikhlorid (EDC) 
 Vinyl chloride monomer (VCM) dapat diproduksi melalui proses cracking etilen dikhlorida (EDC). EDC sendiri diperoleh melalui dua metode, yakni direct chlorination (mereaksikan etilen dengan asam klorida) dan metode oxychloronation (mereaksikan etilen, oksigen dan asam khlorida). Proses cracking etilen ini beroperasi pada temperature 480-550C dan tekanan 3-30 bar. Proses cracking ini dapat mendekomposisi etilen dikhlorida (EDC) menjadi vinyl chloride monomer (VCM) dan asam klorida (HCl) sesuai dengan reaksi berikut: 
 C2H4Cl2 C2H3Cl + HCl Pada pre-heat zone dilakukan penyesuaian suhu hingga mencapai 480 – 550oC dimana reaksi pirolisis dapat berlangsung secara optimum, kemudian pada reaction zone terjadi reaksi pemecahan EDC menjadi VCM. Diameter koil reaktor dirancang sedemikian rupa sehingga kecepatan gas yang mengalir didalamnya berkisar antara 10-20 m/s dan panjang koil dirancang hingga memungkinkan waktu tinggal selama 5-30 sekon. Pada proses ini ada banyak impurities yang terdeteksi dalam hasil pirolisis, sehingga EDC harus dimurnikan terlebih dahulu sebelum masuk reaktor. Pada proses ini pembentukan coke akan sangat menganggu reaksi. Untuk mencegah terbentuknya coke, suhu reaksi harus dijaga berada di bawah 500 C, namun pada temperatur di bawah 500C kecepatan reaksi akan rendah, karena reaksi ini merupakan reaksi endotermis. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan aditif seperti nitromethane chloroform atau carbon tetrachloride. 4. Hydrodechloronation 1-1-2 Trichloroethane (C2H2Cl3)
 Menurut Choi dan Lee (2001), proses ini memanfaatkan limbah organik dari proses pembuatan ethylene dichloride yaitu 1-1-2 trichloroethane (TCEA) untuk membentuk vinyl chloride monomer (VCM). 1-1-2 Trichloroethane (TCEA) direaksikan dengan H2 selama 2 jam dalam sebuah reaktor alir kontinu fixed bed yang beroperasi pada tekanan atmosferis dan suhu 300C. Kinetika reaksi dapat ditingkatkan dengan menjaga perbandingan input H2 sebesar 10 kali lipat lebih besar dari 1-1-2 trichloroethane (TCEA). Pada proses ini digunakan gas N2 sebagai pembawa gas H2. Selektivitas proses dapat ditingkatkan dengan menggunakan Ni-Cu/SiO2 sebagai katalis, aktivasi katalis dilakukan dengan mengalirkan gas H2 dengan gas N2 sebagai gas pembawanya selama 2 jam pada temperature 400C. Pada proses ini diperoleh konversi sebesar 95%. C. Proses Industri Pembuatan PVC (Polyvinyl chloride) 1. Bahan Baku Proses pembuatan PVC melalui reaksi Polimerisasi adisi dibutuhkan beberapa materi yaitu Etilena, Garam Indusri (merupakan garam terbaik untuk dilakukan elektrolisis karena kualitas kemurniannya tinggi), dan tenaga listrik. 2. Sintesa 1. Klor-Alkali Proses yang pertama yaitu Proses Klor-Alkali, gas klorin (Cl2) merupakan produk utama yang dihasilkan pada tahapan ini, disamping produk-produk sampingan berupa natrium hidroksida (NaOH), gas hydrogen (H2) dan natrium hipoklorit (NaOCl) Dalam Proses Klor-Alkali ini garam natrium klorida (NaCl) dilarutkan dalam air dan dimurnikan serta dikonsentrasikan. Larutan garam yang murni dan terkonsentrasi ini kemudian dielektrolisa menghasilkan NaOH, gas klorin dan gas hydrogen. 2NaCl + 2H2O → Cl2 + H2 + 2NaOH Natrium hipoklorit dan asam klorida merupakan produk turunan yang didapat dengan mereaksikan natrium hidroksida dan gas klorin. NaOH + Cl2 → NaOCl + HCl 2. EDC/VCM Proses yang kedua, yaitu Proses EDC/VCM yang menghasilkan monomer vinil klorida (vinyl chloride monomer atau disingkat dengan VCM) sebagai produk utama. Etilen diklorida (EDC) atau 1,2-dichloroethana di masa lalu populer dengan sebutan Dutch Oil demi menghormati ilmuwan-ilmuwan Belanda yang pertama kali berhasil mensintesa zat tersebut dari gas etilen dan gas klorin di akhir abad ke-18. Dewasa ini EDC terutama digunakan untuk memproduksi monomer vinil klorida (VCM), yang merupakan bahan baku utama pembuatan polivinil klorida (PVC). EDC juga digunakan sebagai zat-antara (intermediate) dalam proses pembuatan berbagai zat-zat organik, disamping juga digunakan sebagai zat pelarut (solven). Proses produksi vinil klorida yang dipraktekkan secara komersial saat ini merupakan kombinasi seimbang dari dua jenis proses untuk menghasilkan etilen diklorida (EDC) yang merupakan produk-antara (intermediate) dalam proses produksi vinil klorida. Kedua proses tersebut dinamakan Direct Chlorination (DC) dan Oxy-Chlorination (OC). Dalam proses Direct Chlorination (DC), etilen (CH2=CH2) di-klorinasi untuk menghasilkan etilen diklorida (CH2Cl-CH2Cl). CH2=CH2 + Cl2 → CH2Cl-CH2Cl (1) Etilen diklorida kemudian di-“cracking” (dipanaskan tanpa paparan oksigen) untuk menghasilkan vinil klorida (CH2=CHCl) dan asam klorida (HCl). CH2Cl-CH2Cl → CH2=CHCl + HCl (2) Sementara itu dalam proses Oxy-Chlorination (OC), etilen (CH2=CH2), asam klorida (HCl) yang dihasilkan dari Reaksi (2) dan oksigen (O2) direaksikan untuk menghasilkan etilen diklorida (CH2Cl-CH2Cl). CH2=CH2 + Cl2 + ½ O2 → CH2Cl-CH2Cl + H2O (3) Dengan menjumlahkan Reaksi (1), (2) dan (3), didapat reaksi keseluruhan dari kombinasi proses Direct Chlorination dan Oxy-Chlorination: 2 CH2=CH2 + Cl2 + ½ O2 → 2 CH2=CHCl + H2O (4) 3. Polimerisasi Dalam proses yang ketiga, yaitu proses polimerisasi PVC, vinil klorida (VCM) dipolimerisasi menjadi polivinil klorida (PVC) dalam reactor tank. Mekanisme polimerisasi yang dilakukan adalah dengan metode radikal bebas yang terdiri dari tiga tahap: 1. Inisiasi 2. Propagasi 3. Terminasi PVC dihasilkan dari dua jenis bahan baku utama: minyak bumi dan garam dapur (NaCl). Minyak bumi diolah melalui proses pemecahan molekul yang disebut cracking menjadi berbagai macam zat, termasuk etilena (C2H4), sementara garam dapur diolah melalui proses elektrolisa menjadi natrium hidroksida (NaOH) dan gas klor (Cl2). Etilena kemudian direaksikan dengan gas klor menghasilkan etilena diklorida (CH2Cl-CH2Cl). Proses cracking/pemecahan molekul etilena diklorida menghasilkan gas vinil klorida (CHCl=CH2) dan asam klorida (HCl). Akhirnya, melalui proses polimerisasi (penggabungan molekul yang disebut monomer, dalam hal ini vinil klorida) dihasilkan molekul raksasa dengan rantai panjang (polimer): polivinil klorida (PVC), yang berupa bubuk halus berwarna putih. Masih diperlukan satu langkah lagi untuk mengubah resin PVC menjadi berbagai produk akhir yang bermanfaat. a. Produksi klorin Garam (natrium klorida) yang diperoleh dari laut kering prasejarah dilarutkan dalam air untuk membentuk solusi yang disebut air garam. Solusi ini ditempatkan dalam sebuah sel dan sebuah arus listrik yang melewatinya.gelembung gas Klorin off di salah satu bagian dari sel dan logam natrium diproduksi di lain. Natrium bereaksi dengan air untuk membentuk soda kaustik (sodium hidroksida) dan gas hidrogen. Kedua yang memiliki kegunaan komersial penting. b. Produksi Ethylen Ethylene berasal dari minyak atau gas alam yang halus dan ‘retak’ dengan memanaskan etana, propana atau butana atau naptha dari minyak. Misalnya proses pemecahan untuk metana dapat hadir sebagai berikut: 2CH4 → C2H2 + 3H2 Hasil dari proses ini termasuk hidrogen dapat dibakar untuk menyediakan energi dan propylene yang direklamasi seperti yang berharga. Merupakan hasil reaksi yang mudah terbakar tetapi tidak beracun atau menyebabkan kanker. 1. Produksi PVC Ethylene dan klorin yang dikombinasikan untuk membentuk dichloride, ethylene cair (i) yang kemudian dipanaskan untuk memberikan vinil klorida yang kemudian disuling off dan memberikan gas hidrogen klorida; H2C = CH2 + ClH2C-CH2Cl → H2C = CHCl + HCl Reaksi samping juga terjadi untuk membentuk senyawa organoklorin beberapa yang dikumpulkan karena mereka memiliki penggunaan komersial. Sisanya oleh-produk yang dibakar untuk merebut kembali klorida hidrogen, yang dapat didaur ulang dan bereaksi dengan ethylene dichloride lebih untuk membentuk etilen baru. Vinyl chloride gas kurang berbahaya daripada klorin Namun kanker hati angiosarcoma disebut telah dikaitkan dengan orang-orang yang bekerja dengan vinil klorida. Tekanan diterapkan pada vinil klorida (terdispersi dalam air sebagai suspensi atau emulsi) di ruang tekanan tinggi pada suhu 50-70 ° C. Peran air adalah untuk menghapus dan mengontrol panas yang dilepaskan dalam proses polimerisasi. PVC bentuk partikel kecil yang tumbuh dan ketika mereka mencapai ukuran yang diinginkan reaksi dihentikan dan setiap vinil klorida tidak bereaksi disuling off dan digunakan kembali. PVC dipisahkan off dan dikeringkan untuk membentuk serbuk putih. Sehingga adapun sisa dari hasil produksi atau hasil samping dari proses pembuatan (Polivinil Klorida) PVC adalah hidrokarbon, oil, HCl, caustic soda, dan gas hydrogen. 3. Finishing Dalam proses yang ketiga, yaitu Proses PVC, vinil klorida (VCM) dipolimerisasi menjadi resin polivinil klorida (PVC) dalam reactor. Setelah proses polimerisasi, sisa VCM yang tidak bereaksi dalam proses polimerisasi kemudian dipisahkan dari resin PVC melalui proses stripping. Resin PVC kemudian dikeringkan hingga didapat resin PVC berkualitas tinggi dengan tingkat kemurnian tinggi yang memenuhi standard kesehatan dan higienis internasional disamping memenuhi standard teknis untuk tuntutan aplikasi yang tinggi. Pemrosesan menjadi produk akhir adalah satu tahap penting sebelum resin PVC bisa ditransformasikan menjadi berbagai produk akhir adalah pembuatan compound/adonan (compounding). Compound adalah resin PVC yang telah dicampur dengan berbagai aditif yang masing-masing memiliki fungsi tertentu, sehingga siap untuk diproses menjadi produk jadi dengan sifat-sifat yang diinginkan. Sifat-sifat yang dituju meliputi warna, kefleksibelan bahan, ketahanan terhadap sinar ultra violet (bahan polimer/plastik cenderung rusak jika terpapar oleh sinar ultra violet yang terdapat pada cahaya matahari), kekuatan mekanik transparansi, dan lain-lain. PVC dapat direkayasa hingga bersifat keras untuk aplikasi-aplikasi seperti pipa dan botol plastik, lentur dan tahan gesek seperti pada produk sol sepatu, hingga bersifat fleksibel/lentur dan relatif tipis seperti aplikasi untuk wall paper dan kulit imitasi. Compound PVC kemudian dapat diproses dengan berbagai cara untuk memenuhi ratusan jenis penggunaan yang berbeda, misalnya: a. PVC dapat diekstrusi, artinya dipanaskan dan dialirkan melalui suatu cetakan berbagai bentuk, sehingga dihasilkan produk memanjang yang profilnya mengikuti bentuk cerakan tersebut, misalnya produk pipa, kabel dan lain-lain. b. PVC juga dapat di lelehkan dan disuntikkan (cetak-injeksi) ke dalam suatu ruang cetakan tiga dimensi untuk menghasilkan produk seperti botol, dash board, housing bagi produk-produk elektronik seperti TV, computer, monitor dll. c. Proses kalendering menghasilkan produk berupa film dan lembaran dengan berbagai tingkat ketebalan, biasanya dipakai untuk produk alas lantai, wall paper , dll. d. Dalam teknik cetak-tiup (blow molding), lelehan PVC ditiup di dalam suatu cetakan sehingga membentuk produk botol, misalnya. e. Resin PVC yang terdispersi dalam larutan juga dapat digunakan sebagai bahan pelapis/coating, misalnya untuk lapisan bawah karpet dll. D. Kegunaan PVC 1. Bahan konstruksi yang terbuat dari PVC ringan, rendah pemeliharaan, dan tahan lama. 2. Produk PVC sangat tahan terhadap pelapukan, produk minyak bumi, dan radiasi UV. 3. Bahan tahan api, telah diperiksa secara luas dalam hal pencegahan kebakaran. 4. Sebagai bahan bangunan, PVC relative murah, tahan lama, dan mudah dirangkai. 5. PVC biasa dibuat lebih elastis dan fleksibel dengan adanya penambahan plasticizer. 6. Umumnya digunakan sebagai bahan pakaian, perpipaan, atap, dan insulasi kabel listrik.   BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari pemaparan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa proses industri kimia untuk membuat PVC (polivinil klorida) dengan menggunakan reaksi halogenasi dengan bahan baku etilen memiliki banyak kegunaan diantaranya adalah relatif murah, tahan lama, dan mudah dirangkai sebagai bahan pakaian, perpipaan, atap, dan insulasi kabel listrik. B. Saran Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan pada penulisan berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. DAFTAR PUSTAKA Dry, Jeremy,dkk.2003. Vinyl Chloride Production. Oklahoma: University Of Oklahoma. Efendi, Ahmad. Sri Lestari. 2009. Ethylene Dichloride dengan Proses Oxychlorinasi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Prakosa, Rizal Agung. Wahyu Hosokowati. 2014. Prarancangan Pabrik Vinyl Chloride Monumer dari Ethylene Dichloride dengan Kapasitas 100.000 Ton/Tahun. Yogjakarta: Universitas.

1 komentar:

  1. stainless steel blades with iron blades - Titanium Darts
    These are all made of nano titanium stainless gaggia titanium steel blades from the stainless steel industry titanium shift knob in Germany, polished titanium and their quality is evident titanium plate by their

    BalasHapus