Kamis, 21 September 2017

Alat Industri Kimia - Adsorpsi - Penyerapan Permukaan

MAKALAH ALAT INDUSTRI KIMIA
ADSORPSI
DISUSUN OLEH :
KELAS C1 dan C2
KELOMPOK 4
FASDILAH ALI (09220140041)
RASDIN JURADIN (09220140045) 
ADIL AKSA SYARIF (09220140053)
HARDIYANTI YADI (09220140051) 
EKA WISUDAWATI (09220160092) 
PUTRI DIAH RAGAFADMI (09220140007) 
NURUL ANNISA (09220140012) 
ZUL ILMI EKA SAFITRI (09220140022) 
SARI AGUSLIANA (09220140019) 
JURUSAN TEKNIK KIMIA 
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI 
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA 
MAKASSAR 
2017 

KATA PENGANTAR 
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Alat Industri Kimia. Tak lupa pula kita kirimkan shalawat dan taslim kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW karena beliaulah yang telah membawa kita dari alam yang gelap menuju alam yang terang benderang seperti pada saat ini. Ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini, atas dukungan moral dan materi yang diberikan, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ibu Dr. Ir. Nurjannah, ST., MT., IPM sebagai dosen pembimbing mata kuliah Alat Industri Kimia. 2. Serta teman-teman yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini. Kami mengharapkan makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat untuk pembaca, dan apabila ada kekurangan mohon dimaafkan. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan pada penulisan berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Makassar, 16 Mei 2017 Kelompok IV 

DAFTAR ISI 
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN  1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Pengertian Adsorpsi 3
B. Jenis-jenis Adsorpsi 5
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Adsorpsi 6
D. Kinetika Adsorpsi 8
E. Adsorben 9
F. Aplikasi metode adsorpsi 12
BAB III PENUTUP 14
 A. Kesimpulan 14
 B. Saran 14
DAFTAR PUSTAKA 

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 
Salah satu sifat penting dari permukaan zat adalah adsorpsi. Seperti halnya kinetika kimia, kinetika adsorpsi juga berhubungan dengan laju reaksi. Hanya saja, kinetika adsorpsi lebih khusus, yang hanya membahas sifat penting dari permukaan zat. Adsorpsi digunakan untuk menyatakan bahwa zat lain yang terserap pada zat itu, misalnya karbon aktif dapat menyerap molekul asam asetat dalam larutannya. Tiap partikel adsorban dikelilingi oleh molekul yang diserap karena terjadi interaksi tarik-menarik. Zat-zat yang terlarut dapat diadsorpsi oleh zat padat, misalnya CH3COOH oleh karbon aktif, NH3 oleh karbon aktif, fenolftalein dari larutan asam atau basa oleh karbon aktif, Ag+ atau Cl- oleh AgCl. C lebih baik menyerap non elektrolit dan makin besar BM semakin baik. Zat anorganik lebih baik menyerap elektrolit. Adanya pemilihan zat yang diserap menyebabkan timbulnya adsorpsi negatif. Dalam larutan KCl, H2O diserap oleh arang darah, hingga konsentrasi naik. Partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka partikel zat cair atau gas akan terakumulasi. Fenomena ini juga disebut adsorpsi. Jadi adsorpsi terkait dengan penyerapan partikel pada permukaan zat. Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel pendispersi pada permukaanya. Daya adsorpsi partikel koloid tergolong besar Karena partikelnya memberikan sesuatu permukaan yang luas. Sifat ini telah digunakan dalam berbagai proses seperti penjernihan air. Adsorben ialah zat yang melakukan penyerapan terhadap zat lain (baik cairan maupun gas) pada proses adsorpsi. Adsorben yang paling banyak dipakai untuk menyerap zat-zat dalam larutan adalah arang. Zat ini banyak dipakai di pabrik untuk menghilangkan zat-zat warna dalam larutan. Penyerapan bersifat selektif, yang diserap hanya zat terlarut atau pelarut sangat mirip dengan penyerapan gas oleh zat padat. Ketika pelarut yang mengandung zat terlarut tersebut kontak dengan adsorben, terjadi perpindahan massa zat terlarut dari pelarut ke permukaan adsorben, sehingga konsentrasi zat terlarut di dalam cairan dan di dalam padatan akan berubah terhadap waktu dan posisinya dalam kolom adsorpsi. 

B. Rumusan Masalah 
1. Apakah yang dimaksud dengan adsorpsi dan adsorben? 
2. Apa yang mempengaruhi besar kecilnya adsorpsi? 
3. Bagaimana proses adsorpsi arang aktif? 
4. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi? 
5. Bagaimana aplikasi metode adsorpsi dalam kehidupan sehari-hari? 

C. Tujuan 
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut: 
1. Untuk mengetahui pengertian adsorpsi dan adsorben 
2. Untuk mengetahui apa saja yang mempengaruhi besar kecilnya adsorpsi 
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi 
4. Untuk mengetahui aplikasi metode adsorpsi dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Adsorpsi
Adsorpsi merupakan suatu proses penyerapan oleh padatan tertentu terhadap zat tertentu yang terjadi pada permukaan zat padat karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat padat tanpa meresap kedalam. Bila gas atau uap bersentuhan dengan permukaan padatan yang bersih, maka gas atau uap tadi akan teradsorpsi pada permukaan padatan tersebut. Permukaan padatan disebut sebagai adsorben, sedangkan gas atau uap disebut sebagai adsorbat. Semua padatan dapat menyerap gas atau uap pada permukaan. Banyak gas yang teradsorpsi yang bergantung pada suhu dan tekanan gas serta luas permukaan padatan. Padatan yang paling efisien adalah padatan yang sangat porous seperti arang dan butiran padatan yang sangat halus. Proses adsorpsi dapat terjadi karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan padatan yang tidak seimbang. Adanya gaya ini, padatan cenderung menarik molekul-molekul lain yang bersentuhan dengan permukaan padatan, baik fasa gas atau fasa larutan kedalam permukaannya. Akibatnya konsentrasi molekul pada permukaan menjadi lebih besar dari pada dalam fasa gas zat terlarut dalam larutan. Pada adsorpsi interaksi antara adsorben dengan adsorbat hanya terjadi pada permukaan adsorben. Pada dasarnya, suatu adsorben harus memiliki luas permukaan spesifik yang tinggi, yaitu memiliki pori-pori berdiameter kecil agar proses retensi partikel adsorbat oleh adsorben berlangsung lebih efektif. Secara spesifik, ukuran pori juga menentukan adsorpsi suatu senyawa tertentu dalam larutan. Jika ukuran pori adsorben semakin kecil maka kemampuan adsorpsinya semakin besar, dengan anggapan bahwa komponen yang teradsorpsi dapat memasuki rongga porinya. Jumlah adsorben yang makin banyak akan memberikan luas permukaan yang makin besar bagi adsorbat untuk terdesorpsi. Selain itu makin banyak jumlah adsorben juga akan memberi kesempatan kontak yang makin besar dengan molekul-molekul adsorbat.
Gambar 1. ilustrasi proses absorbsi dan adsorbsi Beberapa tahun belakangan ini proses adsorpsi banyak mendapatkan perhatian, seperti proses penyimpanan gas yang sedang banyak dikembangkan. Teknologi ini tentu dapat membantu masalah penggunaan energi terbarukan yang masih terkendala dalam hal transportasi dan penyimpanan. Pentingnya proses ini menjadi pemicu dilakukannya banyak penelitian mengenai proses adsorpsi mulai dari segi mekanisme sampai dengan pengembangan adsorben yang digunakan dalam proses adsorpsi. Proses adsorpsi dibedakan menjadi 3 tahap yaitu: tahap adsorpsi yaitu tahap dimana terjadi proses adsorpsi adsorbate tertahan pada permukaan adsorbent (tertahannya gas atau uap atau molekul pada permukaan padatan). Pada proses adsorpsi umumnya dilakukan untuk senyawa organic dengan berat molekul (BM) lebih besar dari 46 dan dengan konsentrasi yang kecil.. Semakin besar BM maka proses adsorpsi akan semakin baik. Tahap selanjutnya adalah tahap desorpsi. Tahap ini merupakan kebalikan pada tahap adsorpsi, dimana adsorbate dilepaskan dari adsorbent (lepasnya gas atau uap atau molekul pada permukaan padatan). Desorpsi dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantarnya adalah : Menaikkan temperature adsorbent di atas temperature didih adsorbent, dengan cara mengalirkan uap panas/ udara panas atau dengan pemansan. Menambahkan bahan kimia atau secara kimia dan menurunkan tekanan. Dan tahap terakhir adalah tahap recovery. Tahap ini merupakan tahap pengolahan dari gas, uap atau molekul yang telah di desorpsi (Gambar 1).
Gambar 2. Adsorpsi pada permukaan padatan

B. Jenis-Jenis Adsorpsi

Adsorpsi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu adsorpsi fisika (disebabkan oleh gaya Van Der Waals (penyebab terjadinya kondensasi gas untuk membentuk cairan yang ada pada permukaan adsorben) dan adsorpsi kimia (terjadi reaksi antara zat yang diserap dengan adsorben, banyaknya zat yang teradsorbsi tergantung pada sifat khas zat padatnya) (Brady J 1999).

a. Adsorpsi Fisika Berhubungan dengan gaya Van der Waals. Apabila daya tarik menarik antara zat terlarut dengan adsorben lebih besar dari daya tarik menarik antara zat terlarut dengan pelarutnya, maka zat yang terlarut akan diadsorpsi pada permukaan adsorben. Adsorpsi ini mirip dengan proses kondensasi dan biasanya terjadi pada temperatur rendah pada proses ini gaya yang menahan molekul fluida pada permukaan solid relatif lemah, dan besarnya sama dengan gaya kohesi molekul pada fase cair (gaya van der waals) mempunyai derajat yang sama dengan panas kondensasi dari gas menjadi cair, yaitu sekitar 2.19-21.9 kg/mol. Keseimbangan antara permukaan solid dengan molekul fluida biasanya cepat tercapai dan bersifat reversible. Contohnya adsorpsi oleh karbon aktif. Karbon aktif merupakan senyawa karbon yang diaktifkan dengan cara membuat pori pada struktur karbon tersebut. Aktivasi karbon aktif pada temperatur yang tinggi akan menghasilkan struktur berpori dan luas permukaan adsorpsi yang besar. Semakin besar luas permukaan, maka semakin banyak substansi terlarut yang melekat pada permukaan media adsorpsi.

b. Adsorpsi Kimia Yaitu reaksi yang terjadi antara zat padat dengan zat terlarut yang teradsorpsi. Adsorpsi ini bersifat spesifik dan melibatkan gaya yang jauh lebih besar daripada Adsorpsi fisika. Panas yang dilibatkan adalah sama dengan panas reaksi kimia. Menurut Langmuir, molekul teradsorpsi ditahan pada permukaan oleh gaya valensi yang tipenya sama dengan yang terjadi antara atom-atom dalam molekul. Karena adanya ikatan kimia maka pada permukaan adsorbent akan terbentuk suatu lapisan atau layer, dimana terbentuknya lapisan tersebut akan menghambat proses penyerapan selanjutnya oleh batuan adsorbent sehingga efektifitasnya berkurang. Contohnya Ion exchange.

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Adsoprsi
1. Waktu kontak: merupakan suatu hal yang sangat menentukan dalam proses adsorpsi. Waktu kontak memungkinkan proses difusi dan penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik.
2. Karakteristik adsorben: Ukuran partikel merupakan syarat yang penting dari suatu arang aktif untuk digunakan sebagai adsorben. Ukuran partikel arang mempengaruhi kecepatan dimana adsorpsi terjadi. Kecepatan adsorpsi meningkat dengan menurunnya ukuran partikel.
3. Luas permukaan: Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak adsorbat yang diserap, sehingga proses adsorpsi dapat semakin efektif. Semakin kecil ukuran diameter adsorben maka semakin luas permukaannya. Kapasitas adsorpsi total dari suatu adsorbat tergantung pada luas permukaan total adsorbennya.
4. Kelarutan adsorbat: Agar adsorpsi dapat terjadi, suatu molekul harus terpisah dari larutan. Senyawa yang mudah larut mempunyai afinitas yang kuat untuk larutannya dan karenanya lebih sukar untuk teradsorpsi dibandingkan senyawa yang sukar larut. Akan tetapi ada perkeculian karena banyak senyawa yang dengan kelarutan rendah sukar diadsorpsi, sedangkan beberapa senyawa yang sangat mudah larut diadsorpsi dengan mudah. Usaha-usaha untuk menemukan hubungan kuantitatif antara kemampuan adsorpsi dengan kelarutan hanya sedikit yang berhasil.
5. Ukuran molekul adsorbat: Ukuran molekul adsorbat benar-benar penting dalam proses adsorpsi ketika molekul masuk ke dalam mikropori suatu partikel arang untuk diserap. Adsorpsi paling kuat ketika ukuran pori-pori adsorben cukup besar sehingga memungkinkan molekul adsorbat untuk masuk.
6. pH: proses adsorpsi terjadi menunjukkan pengaruh yang besar terhadap adsorpsi itu sendiri. Hal ini dikarenakan ion hidrogen sendiri diadsorpsi dengan kuat, sebagian karena pH mempengaruhi ionisasi dan karenanya juga mempengaruhi adsorpsi dari beberapa senyawa. Asam organik lebih mudah diadsorpsi pada pH rendah, sedangkan adsorpsi basa organik terjadi dengan mudah pada pH tinggi. pH optimum untuk kebanyakan proses adsorpsi harus ditentukan dengan uji laboratorium.
7. Temperatur: proses adsorpsi terjadi akan mempengaruhi kecepatan dan jumlah adsorpsi yang terjadi. Kecepatan adsorpsi meningkat dengan meningkatnya temperatur, dan menurun dengan menurunnya temperatur. Namun demikian, ketika adsorpsi merupakan proses eksoterm, derajad adsorpsi meningkat pada suhu rendah dan akan menurun pada suhu yang lebih tinggi .
8. Kecepatan pengadukan: semakin besar kecepatan pengadukan, maka laju adsorpsi akan semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena semakin besar kecepatan pengadukan, semakin bertambah kesempatan kontak antara adsorbat dengan adsorben sehingga adsorpsi dapat berlangsung lebih efektif.
9. Berat molekul adsorbat: semakin kecil berat molekul adsorbat, maka laju adsorpsi akan semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena semakin kecil berat molekul adsorbat, kemampuan adsorbat untuk berpindah dari fasa cairan menuju ke fasa padatan (adsorben) semakin meningkat.

D. Kinetika Adsorpsi Seperti halnya kinetika kimia, kinetika adsorpsi juga berhubungan dengan laju reaksi. Hanya saja, kinetika adsorpsi lebih khusus, yang hanya membahas sifat penting dari permukaan zat. Kinetika adsorpsi yaitu laju penyerapan suatu fluida oleh adsorben dalam suatu jangka waktu tertentu. Kinetika adsorpsi suatu zat dapat diketahui dengan mengukur perubahan konsentrasi zat teradsorpsi tersebut, dan menganalisis nilai k (berupa slope/kemiringan) serta memplotkannya pada grafik. Kinetika adsorpsi dipengaruhi oleh kecepatan adsorpsi. Kecepatan adsorpsi dapat didefinisikan sebagai banyaknya zat yang teradsorpsi per satuan waktu.

Adapun kecepatan atau besar kecilnya proses adsorpsi ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Macam adsorben
b. Macam zat yang diadsorpsi (adsorbate)
c. Luas permukaan adsorben
d. Konsentrasi zat yang diadsorpsi (adsorbate)
e. Temperatur

E. Adsorben
Adsorben ialah zat yang melakukan penyerapan terhadap zat lain (baik cairan maupun gas) pada proses adsorpsi. Umumnya adsorben bersifat spesifik, hanya menyerap zat tertentu. Dalam memilih jenis adsorben pada proses adsorpsi, disesuaikan dengan sifat dan keadaan zat yang akan diadsorpsi. Kriteria-kriteria adsorben yang baik (Atkins 1997), antara lain: memiliki selektivitas tinggi untuk proses pemisahan, memiliki kapasitas tinggi untuk meminimalisasi jumlah adsorben yang diperlukan, memiliki sifat fisik dan sifat kimia yang mendukung proses perpindahan massa secara cepat, memiliki stabilitas kimia dan termal, serta sifat kelarutan yang rendah terhadap fluida yang kontak dengan adsorben, memiliki ketahanan secara fisik dan mekanik, tidak memiliki kecenderungan untuk mendorong terjadinya reaksi-reaksi kimia yang tidak dikehendaki, memiliki kemampuan untuk diregenerasi, memiliki harga yang relatif murah. Beberapa jenis adsorben yang biasa digunakan yaitu : 1. Silika gel Merupakan bahan yang terbuat dari add treatment dari larutan sodium silikat yang dikeringkan. Luas permukaanya 600-800 m2/g dengan diameter pori antara 20-50Á. Gel silika cocok digunakan untuk mengadsorpsi gas dehidrat dan untuk memisahkan hidrokarbon. Silika gel cenderung mengikat adsorbat dengan energy yang relative lebih kecil dan membutuhkan temperatur yang rendah untuk proses desorpsinya, dibandingkan jika menggunakan adsorben lain seperti karbon atau zeolit. Kemampuan desorpsi silika gel meningkat dengan meningkatnya temperatur. Silika gel terbuat dari silika dengan ikatan kimia mengandung air kurang lebih 5%. Pada umumnya temperatur kerja silika gel sampai pada 200°C, jika dioperasikan lebih dari batas temperatur kerjanya maka kandungan air dalam silika gel akan hilang dan menyebabkan adsorpsinya hilang. Bentuk butiran silika gel yang banyak digunakan untuk proses adsorpsi seperti pada Gambar 3.
Gambar 3. Silika Gel 2. Karbon aktif Adsorben yang paling banyak dipakai untuk menyerap zat-zat dalam larutan adalah arang. Karbon aktif yang merupakan contoh dari adsorpsi, yang biasanya dibuat dengan cara membakar tempurung kelapa atau kayu dengan persediaan udara (oksigen) yang terbatas. Tiap partikel adsorben dikelilingi oleh molekul yang diserap karena terjadi interaksi tarik menarik. Zat ini banyak dipakai di pabrik untuk menghilangkan zat-zat warna dalam larutan. Penyerapan bersifat selektif, yang diserap hanya zat terlarut atau pelarut sangat mirip dengan penyerapan gas oleh zat padat. Karbon aktif merupakan zat padat amorf yang mempunyai luas permukaan internal dan volume pori yang sangat besar. Karbon aktif dapat digunakan sebagai adsorben dalam proses adsorpsi. Karbon umumnya memiliki daya adsorpsi yang rendah terhadap zat warna. Daya adsorpsi tersebut dapat ditingkatkan dengan cara mengaktifkan karbon dengan menggunakan uap atau bahan kimia. Proses pengaktifan karbon dilakukan dengan tujuan untuk memperbesar luas permukaan karbon dengan cara membuka pori-pori yang tertutup sehingga memperbesar kapasitas adsorpsi terhadap zat warna. Pori-pori dalam karbon umumnya mengandung tar, hidrokarbon, dan zat-zat organik lainnya seperti fixed carbon, abu, air, persenyawaan yang mengandung nitrogen dan sulfur. Bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan pengaktif karbon adalah HNO3, H3PO4, sianida, Ca(OH)2, CaCl2, Ca3(PO4)2, NaOH, Na2SO4, SO2, ZnCl2, Na2CO3, dan uap air pada suhu tinggi. Unsur-unsur mineral dari senyawa-senyawa kimia pengaktif yang ditambahkan akan meresap ke dalam karbon dan membuka permukaan yang mula-mula tertutup oleh komponen kimia sehingga luas permukaan karbon yang aktif bertambah besar. Bentuk butiran karbon aktif dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 4. Karbon aktif 3. Zeolit Zeolit mengandung kristal zeolit yaitu mineral aluminosilicate yang disebut sebagai penyaring molekul. Mineral aluminosilicate ini terbentuk secara alami. Zeolit buatan dibuat dan dikembangkan untuk tujuan khusus, diantaranya 4A, 5A, 10X, dan 13X yang memiliki volume rongga antara 0.05 sampai 0.3 cm3/gram dan dapat dipanaskan sampai 500° C tanpa harus kehilangan mampu adsorpsi dan regenerasinya. Zeolit 4A (NaA) digunakan untuk mengeringkan dan memisahkan campuran hydrokarbon. Zeolit 5A (CaA) digunakan untuk memisahkan Cylic hydrocarbon. Zeolit 10X (CaX) dan 13X (NaX) memiliki diameter yang lebih besar sehingga dapat mengadsorbsi adsorbat pada umumnya. Bentuk butiran zeolit dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 5. Zeolit 4. Alumina Aktif Alumina aktif cocok digunakan untuk mengadsorpsi gas kering dan Liquid. Luas permukaannya 200-500 m2/g dan diameter porinya 20-140Á.
Gambar 6. Alumina Aktif

F. Aplikasi metode adsorpsi
a. Penjernihan air
Karbon aktif banyak digunakan dalam proses penjernihan air. Air yang berasal dari berbagai sumber seperti sungai, danau, air tanah dari sumur, dan lain-lain umumnya masih mengandung kontaminan-kontaminan seperti bakteri, virus, dan bahan-bahan organik lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penjernihan air minum dengan karbon aktif untuk menghilangkan kontaminan dan bahan organik lain sehingga air minum menjadi aman untuk dikonsumsi.

b. Pengolahan limbah cair industri
Limbah cair industri biasanya mengandung padatan-padatan tersuspensi, mikroorganisme berbahaya, kontaminan organik maupun anorganik beracun yang harus dihilangkan sebelum limbah tersebut dibuang ke lingkungan. Pada pengolahan limbah tersier, karbon aktif digunakan untuk menghilangkan zat-zat berbahaya dan bahan organic lainnya yang masih tersisa dalam limbah cair.

c. Dekolorisasi bahan pemanis Karbon aktif untuk fasa cair dapat diaplikasikan dalam proses pemurnian gula. Proses pemurnian gula (dekolorisasi gula) dapat dilakukan dengan menggunakan adsorpsi dengan karbon aktif. Adsorpsi dengan karbon aktif ini dapat menghilangkan zat warna, rasa, dan bau yang tidak diinginkan dalam gula, serta dapat memperpanjang umur penyimpanan gula.

d. Industri makanan, minuman, dan minyak Karbon aktif merupakan salah satu bahan yang digunakan dalam proses pemurnian makanan. Minyak nabati dan lemak hewani harus dimurnikan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi untuk menghilangkan partikulat, kontaminan organik dan anorganik. Pada produksi minuman beralkohol, salah satu contohnya: karbon aktif digunakan untuk menghilangkan rasa dan bau yang tidak diinginkan pada vodka.  

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Adsorpsi merupakan proses akumulasi adsorbat pada permukaan adsorben yang disebabkan oleh gaya tarik antar molekul atau suatu akibat dari medan gaya pada permukaan padatan (adsorben) yang menarik molekul-molekul gas, uap atau cairan. Adsorben ialah zat yang melakukan penyerapan terhadap zat lain (baik cairan maupun gas) pada proses adsorpsi. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi diantaranya luas permukaan adsorben, diameter partikel adsorben, konsentrasi awal adsorbat pada fasa cairan (C0), kelarutan adsorbat (solubility of adsorbate), berat molekul adsorbat, temperatur (T), kecepatan pengadukan, pH, dan waktu kontak. Aplikasi metode adsorpsi seperti penjernihan air, pengolahan limbah cair industri, dan dekolorisasi bahan pemanis.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan pada penulisan berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA
Alberty, R.A., dan F. Daniel. Physical Chemistry, 5th ed, SI Version.
John Wiley and Sons Inc. New York. Atkins, P.W. 1997. Kimia Fisika Jilid 2. Erlangga. Jakarta. Brady, James. 1999. Kimia Untuk Universitas. Erlangga. Jakarta.
Oscik J, 1982. Adsorption.
John Wiley and Sons Inc. New York. Suryawan, Bambang. 2004. Karakteristik Zeolit Indonesia sebagai Adsorben Uap Air. Disertasi. Universitas Indonesia (UI). Jakarta.

Minggu, 28 Mei 2017

Industri Kimia Halogenasi (Polivinil Klorida)

MAKALAH PROSES INDUSTRI KIMIA II Industri Kimia Halogenasi (Polivinil Klorida) DISUSUN OLEH : KELAS C2 KELOMPOK II MUTMAINNAH (09220140038) AINUN PRATIWI (09220140039) NURICHSAN USMAN (09220140040) FASDILAH ALI (09220140041) JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR 2016 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Manajemen Industri. Tak lupa pula kita kirimkan shalawat dan taslim kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW karena beliaulah yang telah membawa kita dari alam yang gelap menuju alam yang terang benderang seperti pada saat ini. Ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini, atas dukungan moral dan materi yang diberikan, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ibu Dr. Rismawati, ST., MT sebagai dosen pembimbing mata kuliah Proses Industri Kimia II. 2. Serta orang tua dan juga teman-teman yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini. Saya mengharapkan makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat untuk pembaca, dan apabila ada kekurangan mohon dimaafkan. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan pada penulisan berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Makassar, 24 Oktober 2016 Kelompok II DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 BAB II PEMBAHASAN 2 A. Reaksi Halogenasi 2 B. Polivinil Klorida (PVC) 2 C. Proses Industri Pembuatan PVC (Polyvinyl chloride) 6 D. Kegunaan PVC 11 BAB III PENUTUP 13 A. Kesimpulan 13 B. Saran 13 DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Plastik adalah bentuk polimerisasi yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa plastic memiliki sifat khusus, antara lain akan lebih mudah larut pada pelarut yang sesuai, pada suhu tinggi akan mudah lunak, tetapi akan mengeras kembali jika didinginkan, struktur molekulnya linier atau bercabang tanpa ikatan silang antar rantai. Bahan-bahan yang bersifat termoplastik mudah untuk diolah kembali karena setiap dipanaskan, bahan-bahan tersebut dapat dituangkan ke dalan cetakan yang berbeda untuk membuat plastik yang baru. Polietilen (PE) dan polivinilklorida (PVC) merupakan contoh jenis polimer ini. Polivinil klorida (IUPAC: Poli (kloroetanadiol)), biasa disingkat PVC, adalah polimer termoplastik urutan ketiga dalam hal jumlah pemakaian di dunia, setelah polietilena dan polipropilena. Vinyl chloride monomer (VCM) merupakan senyawa organik dengan rumus molekul C2H3Cl. Dalam perkembangannya, VCM diproduksi sebagai produk antara dan digunakan untuk bahan baku pembuatan polimer polivinyl chloride (PVC). Klorinasi hidrokarbon adalah ide dasar di balik produksi monomer vinil klorida (VCM). hidrokarbon terklorinasi (CHCs) jauh lebih tahan terhadap biodegradasi, tidak seperti hidrokarbon sederhana. Hal ini karena kekuatan yang melekat dari ikatan C-Cl. Akibatnya, CHCs buatan manusia mulai menumpuk di lingkungan. Namun, produksi VCM adalah penting untuk produksi polyvinyl chloride (PVC). Ada begitu banyak aspek positif dari menggunakan PVC yang sangat penting yang diproduksi. Di seluruh dunia, lebih dari 50% PVC yang diproduksi dipakai dalam konstruksi. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Proses Industri Kimia pembuatan Polivinil klorida (PVC) yang melibatkan proses halogenasi dalam proses pembuatan PVC. BAB II PEMBAHASAN A. Reaksi Halogenasi Halogenasi diambil dari kata halogen yaitu anggota golongan unsur yang sangat aktif, terdiri dari fluorin, bromin, iodin, klorin, atau astatin, yang mempunyai sifat kimia sama. Sedangkan halogenasi tersebut merupakan prosesnya yaitu pemasukan halogen ke dalam senyawa organik, baik secara penambahan (adisi) maupun secara penggantian (substitusi). Halogenasi merupakan reaksi yang terjadi antara ikatan karbon-karbon rangkap (C=C) pada senyawa-senyawa alkena seperti etena dengan unsur-unsur halogen seperti klorin, bromin dan iodin. Reaksi halogenasi sendiri telah banyak digunakan di industri-industri organik maupun non-organik. Reaksi halogenasi adalah reaksi yang terjadi pengikatan satu atau lebih atom halogen (F, Cl. Br, I) pada senyawa organik. Pabrik kimia yang menggunakan proses halogenasi 1. Pabrik Hexachlorobenzena 2. Pabrik Vinyl Chloride 3. Pabrik Tetrachloroethane 4. Pabrik Allyl Chloride B. Polivinil Klorida (PVC) Vinyl chloride pertama kali diproduksi menggunakan proses dehidrasi etilen diklorida (EDC) dengan kalium kaustik beralkohol. Namun, proses industri pertama yang efektif didasarkan pada hydrochlorination asetilena. Sampai akhir 1940-an, proses ini digunakan hampir secara eksklusif. Metode normal memproduksi acetylene adalah dari kalsium karbida. "Kebutuhan energi tinggi untuk produksi karbida adalah kelemahan serius untuk produksi massal terus vinil klorida dengan metode ini". Namun, seperti ethylene menjadi lebih banyak di awal 50-an, proses komersial dikembangkan untuk menghasilkan vinil klorida dari klorin dan etilena melalui EDC, yaitu, rute etilena seimbang. Hari ini etilena seimbang bertanggung jawab untuk lebih dari 90% dari produksi vinyl klorida dunia. "Proses ini telah disempurnakan dan skala operasi telah sangat meningkat, tetapi tidak ada proses fundamental baru telah mencapai kelangsungan hidup komersial". Meskipun hal ini benar, masih perlu untuk memeriksa proses alternatif dan menentukan apakah mereka masih bisa dimanfaatkan. Semua tanaman produksi saat ini untuk vinil klorida bergantung pada penggunaan bahan baku C2 hidrokarbon, khususnya, acetylene, ethylene, atau etana. operasi komersial menggunakan senyawa ini terbatas pada proses fase gas. "Industri dari asetilena adalah proses-satu tahap yang relatif sederhana, tetapi biaya asetilena tinggi". Etana adalah jauh paling hidrokarbon C2 mahal, tapi tidak dapat dikonversi ke vinil klorida dengan selektifitas yang tinggi. Terdapat empat metode yang dapat ditempuh untuk memproduksi VCM, yaitu: cracking etilen dikhlorida (EDC), reaksi antara acetylene (C2H2) dengan hydrogen chloride (HCl), reaksi methyl chloride (CH3Cl) dengan metylene chloride (CH2CHCl) serta hydrodechloronation 1-1-2 trichloroethane (C2H3Cl3). Keempat metode tersebut akan dijelaskan secara singkat di bawah ini. 1. Reaksi Acetylene (C2H2) dengan Hydrogen Chloride (HCl)
 Menurut Nexant’s ChemSystem Process Evaluation/ Research Planning (2007), metode pembuatan VCM dengan mereaksikan acetylene dengan HCl merupakan metode yang pertama kali digunakan dalam memproduksi vinyl chloride monomer (VCM). Metode ini dilakukan dengan mereaksikan acetylene yang berada pada fasa uapnya dengan HCl. Reaksi ini berjalan dengan bantuan mercury chloride (HgCl2) dan karbon aktif sebagai katalis. Karbon aktif yang digunakan sebagai carrier mercury chloride ini dapat diperoleh dari batu bara atau coke petroleum. Pada proses ini, HCl bebas air dihasilkan dari reaksi antara gas H2 dan gas Cl2, sedangkan asetilen dikeringkan terlebih dahulu kemudian dilewatkan tumpukan karbon dengan tujuan untuk menghilangkan zat-zat yang dapat merusak katalis seperti sulfida. Acetylene dan HCl dicampur dengan menggunakan mixer untuk kemudian dipanaskan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam reaktor. Reaksi yang terjadi pada proes ini cukup sederhana dan dinilai cukup efektif karena menghasilkan konversi yang cukup tinggi. Adapun reaksi yang terjadi pada proses ini adalah sebagai berikut: Reaksi di atas merupakan reaksi eksotermis dengan panas reaksi pada 25oC dan tekanan 1 atm adalah sebesar -22.451.77 Kkal/Kgmol, sehingga panas yang timbul akibat reaksi harus diserap agar reaktor tetap bekerja secara isothermal. Reaksi ini berjalan pada temperature 90-140 C dan tekanan 1,5 atm sampai 1,6 atm. Pada kondisi operasi tersebut, konversi reaktan adalah sebesar 80-85%. Reaktor yang dipakai pada proses ini adalah fixed bed reactor dengan katalis yang diletakkan di dalam pipa-pipanya. 2. Reaksi Metil Khlorid CH3Cl dengan Methylene Chloride CH2CHCl Metode ini dilakukan dengan mereaksikan methyl chloride dan methylene chloride yang berada pada fasa uap-nya untuk menghasilkan vinyl chloride monomer dan asam klorida. Satu mol methyl chloride bereaksi dengan satu mol methylene chloride untuk menghasilkan satu mol vinyl chloride monomer dan 2 mol asam klorida. Mekanisme reaksi yang terjadi adalah 
sebagai berikut: CH3Cl + H2O CH3OH + HCl CH3OH + CH2Cl2 CH3OCH2Cl + HCl CH3OCH2Cl
 CH2CHCl + H2O Reaksi di atas berjalan pada temperatur 300-500C dan tekanan 1 atm 
sampai 10 atm. Selektivitas pada reaksi di atas dapat ditingkatkan dengan menggunakan beberapa katalis antara lain alumina gel, gamma-alumina, zinc chloride, zeolite dan silicone alumunium phosphorus.
 3. Cracking Etilen Dikhlorid (EDC) 
 Vinyl chloride monomer (VCM) dapat diproduksi melalui proses cracking etilen dikhlorida (EDC). EDC sendiri diperoleh melalui dua metode, yakni direct chlorination (mereaksikan etilen dengan asam klorida) dan metode oxychloronation (mereaksikan etilen, oksigen dan asam khlorida). Proses cracking etilen ini beroperasi pada temperature 480-550C dan tekanan 3-30 bar. Proses cracking ini dapat mendekomposisi etilen dikhlorida (EDC) menjadi vinyl chloride monomer (VCM) dan asam klorida (HCl) sesuai dengan reaksi berikut: 
 C2H4Cl2 C2H3Cl + HCl Pada pre-heat zone dilakukan penyesuaian suhu hingga mencapai 480 – 550oC dimana reaksi pirolisis dapat berlangsung secara optimum, kemudian pada reaction zone terjadi reaksi pemecahan EDC menjadi VCM. Diameter koil reaktor dirancang sedemikian rupa sehingga kecepatan gas yang mengalir didalamnya berkisar antara 10-20 m/s dan panjang koil dirancang hingga memungkinkan waktu tinggal selama 5-30 sekon. Pada proses ini ada banyak impurities yang terdeteksi dalam hasil pirolisis, sehingga EDC harus dimurnikan terlebih dahulu sebelum masuk reaktor. Pada proses ini pembentukan coke akan sangat menganggu reaksi. Untuk mencegah terbentuknya coke, suhu reaksi harus dijaga berada di bawah 500 C, namun pada temperatur di bawah 500C kecepatan reaksi akan rendah, karena reaksi ini merupakan reaksi endotermis. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan aditif seperti nitromethane chloroform atau carbon tetrachloride. 4. Hydrodechloronation 1-1-2 Trichloroethane (C2H2Cl3)
 Menurut Choi dan Lee (2001), proses ini memanfaatkan limbah organik dari proses pembuatan ethylene dichloride yaitu 1-1-2 trichloroethane (TCEA) untuk membentuk vinyl chloride monomer (VCM). 1-1-2 Trichloroethane (TCEA) direaksikan dengan H2 selama 2 jam dalam sebuah reaktor alir kontinu fixed bed yang beroperasi pada tekanan atmosferis dan suhu 300C. Kinetika reaksi dapat ditingkatkan dengan menjaga perbandingan input H2 sebesar 10 kali lipat lebih besar dari 1-1-2 trichloroethane (TCEA). Pada proses ini digunakan gas N2 sebagai pembawa gas H2. Selektivitas proses dapat ditingkatkan dengan menggunakan Ni-Cu/SiO2 sebagai katalis, aktivasi katalis dilakukan dengan mengalirkan gas H2 dengan gas N2 sebagai gas pembawanya selama 2 jam pada temperature 400C. Pada proses ini diperoleh konversi sebesar 95%. C. Proses Industri Pembuatan PVC (Polyvinyl chloride) 1. Bahan Baku Proses pembuatan PVC melalui reaksi Polimerisasi adisi dibutuhkan beberapa materi yaitu Etilena, Garam Indusri (merupakan garam terbaik untuk dilakukan elektrolisis karena kualitas kemurniannya tinggi), dan tenaga listrik. 2. Sintesa 1. Klor-Alkali Proses yang pertama yaitu Proses Klor-Alkali, gas klorin (Cl2) merupakan produk utama yang dihasilkan pada tahapan ini, disamping produk-produk sampingan berupa natrium hidroksida (NaOH), gas hydrogen (H2) dan natrium hipoklorit (NaOCl) Dalam Proses Klor-Alkali ini garam natrium klorida (NaCl) dilarutkan dalam air dan dimurnikan serta dikonsentrasikan. Larutan garam yang murni dan terkonsentrasi ini kemudian dielektrolisa menghasilkan NaOH, gas klorin dan gas hydrogen. 2NaCl + 2H2O → Cl2 + H2 + 2NaOH Natrium hipoklorit dan asam klorida merupakan produk turunan yang didapat dengan mereaksikan natrium hidroksida dan gas klorin. NaOH + Cl2 → NaOCl + HCl 2. EDC/VCM Proses yang kedua, yaitu Proses EDC/VCM yang menghasilkan monomer vinil klorida (vinyl chloride monomer atau disingkat dengan VCM) sebagai produk utama. Etilen diklorida (EDC) atau 1,2-dichloroethana di masa lalu populer dengan sebutan Dutch Oil demi menghormati ilmuwan-ilmuwan Belanda yang pertama kali berhasil mensintesa zat tersebut dari gas etilen dan gas klorin di akhir abad ke-18. Dewasa ini EDC terutama digunakan untuk memproduksi monomer vinil klorida (VCM), yang merupakan bahan baku utama pembuatan polivinil klorida (PVC). EDC juga digunakan sebagai zat-antara (intermediate) dalam proses pembuatan berbagai zat-zat organik, disamping juga digunakan sebagai zat pelarut (solven). Proses produksi vinil klorida yang dipraktekkan secara komersial saat ini merupakan kombinasi seimbang dari dua jenis proses untuk menghasilkan etilen diklorida (EDC) yang merupakan produk-antara (intermediate) dalam proses produksi vinil klorida. Kedua proses tersebut dinamakan Direct Chlorination (DC) dan Oxy-Chlorination (OC). Dalam proses Direct Chlorination (DC), etilen (CH2=CH2) di-klorinasi untuk menghasilkan etilen diklorida (CH2Cl-CH2Cl). CH2=CH2 + Cl2 → CH2Cl-CH2Cl (1) Etilen diklorida kemudian di-“cracking” (dipanaskan tanpa paparan oksigen) untuk menghasilkan vinil klorida (CH2=CHCl) dan asam klorida (HCl). CH2Cl-CH2Cl → CH2=CHCl + HCl (2) Sementara itu dalam proses Oxy-Chlorination (OC), etilen (CH2=CH2), asam klorida (HCl) yang dihasilkan dari Reaksi (2) dan oksigen (O2) direaksikan untuk menghasilkan etilen diklorida (CH2Cl-CH2Cl). CH2=CH2 + Cl2 + ½ O2 → CH2Cl-CH2Cl + H2O (3) Dengan menjumlahkan Reaksi (1), (2) dan (3), didapat reaksi keseluruhan dari kombinasi proses Direct Chlorination dan Oxy-Chlorination: 2 CH2=CH2 + Cl2 + ½ O2 → 2 CH2=CHCl + H2O (4) 3. Polimerisasi Dalam proses yang ketiga, yaitu proses polimerisasi PVC, vinil klorida (VCM) dipolimerisasi menjadi polivinil klorida (PVC) dalam reactor tank. Mekanisme polimerisasi yang dilakukan adalah dengan metode radikal bebas yang terdiri dari tiga tahap: 1. Inisiasi 2. Propagasi 3. Terminasi PVC dihasilkan dari dua jenis bahan baku utama: minyak bumi dan garam dapur (NaCl). Minyak bumi diolah melalui proses pemecahan molekul yang disebut cracking menjadi berbagai macam zat, termasuk etilena (C2H4), sementara garam dapur diolah melalui proses elektrolisa menjadi natrium hidroksida (NaOH) dan gas klor (Cl2). Etilena kemudian direaksikan dengan gas klor menghasilkan etilena diklorida (CH2Cl-CH2Cl). Proses cracking/pemecahan molekul etilena diklorida menghasilkan gas vinil klorida (CHCl=CH2) dan asam klorida (HCl). Akhirnya, melalui proses polimerisasi (penggabungan molekul yang disebut monomer, dalam hal ini vinil klorida) dihasilkan molekul raksasa dengan rantai panjang (polimer): polivinil klorida (PVC), yang berupa bubuk halus berwarna putih. Masih diperlukan satu langkah lagi untuk mengubah resin PVC menjadi berbagai produk akhir yang bermanfaat. a. Produksi klorin Garam (natrium klorida) yang diperoleh dari laut kering prasejarah dilarutkan dalam air untuk membentuk solusi yang disebut air garam. Solusi ini ditempatkan dalam sebuah sel dan sebuah arus listrik yang melewatinya.gelembung gas Klorin off di salah satu bagian dari sel dan logam natrium diproduksi di lain. Natrium bereaksi dengan air untuk membentuk soda kaustik (sodium hidroksida) dan gas hidrogen. Kedua yang memiliki kegunaan komersial penting. b. Produksi Ethylen Ethylene berasal dari minyak atau gas alam yang halus dan ‘retak’ dengan memanaskan etana, propana atau butana atau naptha dari minyak. Misalnya proses pemecahan untuk metana dapat hadir sebagai berikut: 2CH4 → C2H2 + 3H2 Hasil dari proses ini termasuk hidrogen dapat dibakar untuk menyediakan energi dan propylene yang direklamasi seperti yang berharga. Merupakan hasil reaksi yang mudah terbakar tetapi tidak beracun atau menyebabkan kanker. 1. Produksi PVC Ethylene dan klorin yang dikombinasikan untuk membentuk dichloride, ethylene cair (i) yang kemudian dipanaskan untuk memberikan vinil klorida yang kemudian disuling off dan memberikan gas hidrogen klorida; H2C = CH2 + ClH2C-CH2Cl → H2C = CHCl + HCl Reaksi samping juga terjadi untuk membentuk senyawa organoklorin beberapa yang dikumpulkan karena mereka memiliki penggunaan komersial. Sisanya oleh-produk yang dibakar untuk merebut kembali klorida hidrogen, yang dapat didaur ulang dan bereaksi dengan ethylene dichloride lebih untuk membentuk etilen baru. Vinyl chloride gas kurang berbahaya daripada klorin Namun kanker hati angiosarcoma disebut telah dikaitkan dengan orang-orang yang bekerja dengan vinil klorida. Tekanan diterapkan pada vinil klorida (terdispersi dalam air sebagai suspensi atau emulsi) di ruang tekanan tinggi pada suhu 50-70 ° C. Peran air adalah untuk menghapus dan mengontrol panas yang dilepaskan dalam proses polimerisasi. PVC bentuk partikel kecil yang tumbuh dan ketika mereka mencapai ukuran yang diinginkan reaksi dihentikan dan setiap vinil klorida tidak bereaksi disuling off dan digunakan kembali. PVC dipisahkan off dan dikeringkan untuk membentuk serbuk putih. Sehingga adapun sisa dari hasil produksi atau hasil samping dari proses pembuatan (Polivinil Klorida) PVC adalah hidrokarbon, oil, HCl, caustic soda, dan gas hydrogen. 3. Finishing Dalam proses yang ketiga, yaitu Proses PVC, vinil klorida (VCM) dipolimerisasi menjadi resin polivinil klorida (PVC) dalam reactor. Setelah proses polimerisasi, sisa VCM yang tidak bereaksi dalam proses polimerisasi kemudian dipisahkan dari resin PVC melalui proses stripping. Resin PVC kemudian dikeringkan hingga didapat resin PVC berkualitas tinggi dengan tingkat kemurnian tinggi yang memenuhi standard kesehatan dan higienis internasional disamping memenuhi standard teknis untuk tuntutan aplikasi yang tinggi. Pemrosesan menjadi produk akhir adalah satu tahap penting sebelum resin PVC bisa ditransformasikan menjadi berbagai produk akhir adalah pembuatan compound/adonan (compounding). Compound adalah resin PVC yang telah dicampur dengan berbagai aditif yang masing-masing memiliki fungsi tertentu, sehingga siap untuk diproses menjadi produk jadi dengan sifat-sifat yang diinginkan. Sifat-sifat yang dituju meliputi warna, kefleksibelan bahan, ketahanan terhadap sinar ultra violet (bahan polimer/plastik cenderung rusak jika terpapar oleh sinar ultra violet yang terdapat pada cahaya matahari), kekuatan mekanik transparansi, dan lain-lain. PVC dapat direkayasa hingga bersifat keras untuk aplikasi-aplikasi seperti pipa dan botol plastik, lentur dan tahan gesek seperti pada produk sol sepatu, hingga bersifat fleksibel/lentur dan relatif tipis seperti aplikasi untuk wall paper dan kulit imitasi. Compound PVC kemudian dapat diproses dengan berbagai cara untuk memenuhi ratusan jenis penggunaan yang berbeda, misalnya: a. PVC dapat diekstrusi, artinya dipanaskan dan dialirkan melalui suatu cetakan berbagai bentuk, sehingga dihasilkan produk memanjang yang profilnya mengikuti bentuk cerakan tersebut, misalnya produk pipa, kabel dan lain-lain. b. PVC juga dapat di lelehkan dan disuntikkan (cetak-injeksi) ke dalam suatu ruang cetakan tiga dimensi untuk menghasilkan produk seperti botol, dash board, housing bagi produk-produk elektronik seperti TV, computer, monitor dll. c. Proses kalendering menghasilkan produk berupa film dan lembaran dengan berbagai tingkat ketebalan, biasanya dipakai untuk produk alas lantai, wall paper , dll. d. Dalam teknik cetak-tiup (blow molding), lelehan PVC ditiup di dalam suatu cetakan sehingga membentuk produk botol, misalnya. e. Resin PVC yang terdispersi dalam larutan juga dapat digunakan sebagai bahan pelapis/coating, misalnya untuk lapisan bawah karpet dll. D. Kegunaan PVC 1. Bahan konstruksi yang terbuat dari PVC ringan, rendah pemeliharaan, dan tahan lama. 2. Produk PVC sangat tahan terhadap pelapukan, produk minyak bumi, dan radiasi UV. 3. Bahan tahan api, telah diperiksa secara luas dalam hal pencegahan kebakaran. 4. Sebagai bahan bangunan, PVC relative murah, tahan lama, dan mudah dirangkai. 5. PVC biasa dibuat lebih elastis dan fleksibel dengan adanya penambahan plasticizer. 6. Umumnya digunakan sebagai bahan pakaian, perpipaan, atap, dan insulasi kabel listrik.   BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari pemaparan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa proses industri kimia untuk membuat PVC (polivinil klorida) dengan menggunakan reaksi halogenasi dengan bahan baku etilen memiliki banyak kegunaan diantaranya adalah relatif murah, tahan lama, dan mudah dirangkai sebagai bahan pakaian, perpipaan, atap, dan insulasi kabel listrik. B. Saran Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan pada penulisan berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. DAFTAR PUSTAKA Dry, Jeremy,dkk.2003. Vinyl Chloride Production. Oklahoma: University Of Oklahoma. Efendi, Ahmad. Sri Lestari. 2009. Ethylene Dichloride dengan Proses Oxychlorinasi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Prakosa, Rizal Agung. Wahyu Hosokowati. 2014. Prarancangan Pabrik Vinyl Chloride Monumer dari Ethylene Dichloride dengan Kapasitas 100.000 Ton/Tahun. Yogjakarta: Universitas.